Usaha Kita Andai Presiden Studi Banding ke Walikota Joko Widodo...


"Hampir semua pria bisa bertahan menghadapi kesusahan. Namun, bila Anda ingin menguji abjad sejati pria, beri dia kekuasaan." Abraham Lincoln
 


Usai nonton TV one lalu Metro TV, saya tak kuasa menunda menulis ini. Menulis kegelisahan. Jemari menarikan kegalauan. Di TV one, bahasannya masih seputar Nazarudin dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan setelah itu pencet remote ke Metro TV, ada OTOblitz yang lagi meliput Toyota Camry. Mobil menengah berkelas yang naik pangkat dikala dipakai oleh menteri di jaman JK. Camry ini lalu dibahas di program selanjutnya Mata Najwa namun dari sisi yang berbeda. Ya, Najwa membahas ketegasan dan kesederhanaan Joko Widodo, Walikota Solo, yang tidak berhasrat mengganti Camrynya meski telah 10 tahun. Sungguh alasan tersaji: didum dan uzur kerap tertatih mogok.

Banyak lagi yang diangkat dari sosok ini. Kesuksesannya menangani PKL. Keberpihakannya kepada pasar tradisional. Keengganannya mendapatkan suap. Dan lain-lain. Luar biasa! Joko Widodo mungkin telah berubah menjadi menjadi hero bagi kita. Di tengah percaloan dewan, negara gagal, rakyat yang apatis berjamaah dan, dan, dan... silakan ikuti goresan pena menohok berikut...

Kita yakni masyarakat yang melarang siapa pun melaksanakan korupsi, kecuali kita ikut kecipratan. Kita tidak nrimo ada KKN, kalau kita tidak dilibatkan di dalamnya. Korupsi tidak haram asalkan yang melaksanakan yakni keluarga kita sendiri, bapak kita, tokoh parpol kita, atau ulama panutan kita.

Meniduri pembantu rumah tangga itu zalim dan dosa besar, tetapi kalau yang melaksanakan yakni tokoh kita sendiri, maka wajib kita tutupi, kalau perlu anak hasil perzinahan itu kita upayakan penanganan dan penampungannya.

Bagi kita, yang dimaksud tokoh yakni orang yang kita dorong, kita perjuangkan, dan kita bela untuk menjadi pemimpin nasional alasannya yakni kalau berhasil, maka kita semua akan mendapatkan akses-akses dari beliau, bisa dapat proyek, bisa makelaran jabatan, atau sekalian ditempatkan menjadi pejabat ini-itu.

Calon presiden yakni orang yang kalau dia menjadi presiden kita harapkan memberi keuntungan kepada kita. Sekurang-kurangnya memberi keuntungan kepada golongan kita, ormas/orpol kita, kelompok kita: kalau terpaksanya tidak bisa maksimal, ya, yang penting bisa memberi keuntungan bagi kita eksklusif dan keluarga kita.

Calon presiden itu boleh pelawak, boleh malaikat, boleh orang dungu, boleh setan, boleh siapa saja, asalkan menguntungkan kita. Yang dimaksud kita, tidak harus kita bangsa Indonesia, bahkan tak harus kita segolongan, yang penting kita sendiri ini, seorang saja pun, mendapat keuntungan. (Cak Nun)
Ya, Joko Widodo, bersahabat dipanggil Jokowi, menjadi oase di tengah kegersangan pemimpin yang memimpin dengan kacamata wong cilik. Seorang yang menyampaikan keharuman di tengah aroma anyir kekuasaan. Seorang yang menolak berdamai dengan kemungkaran. Profil serupa yang hinggap pada diri Mahfud MD, Amien Rais, dan, saya yakin masih ada yang lainnya. (tolong ingatkan saya yang lainnya)

Bila semangat Joko Wi ini hadir sedikit saja di tampuk kekuasaan, saya yakin mogoknya roda reformasi ini akan bergerak perlahan. Spirit yang hadir di istana, di pemerintahan, di dewan, di kepolisian, di mana-mana, dan seterusnya.

Hm, dan bila studi banding itu perlu. Layaklah bila Solo menjadi prioritas tujuannya. Presiden dan DPR RI perlu berkaca dari kesuksesan bawahannya. Biarlah uang studi banding berputar. Bergerak di dalam negeri sampai tidak perlu lagi ada slogan: Aku cinta produk Indonesia. Dan Jokowi pun tahu bagaimana menggerakkan sektor riil!

Pak Beye
segeralah berani, peliharalah momentum ini. Ajak bicara Jokowi. Bersihkan sapu-sapu kotor. Buat kami besar hati padamu. Bangga pada Indonesia. Tanpa slogan. Tanpa retorika kosong. Tanpa janji-janji. Lagi.
0 Komentar untuk "Usaha Kita Andai Presiden Studi Banding ke Walikota Joko Widodo..."

Back To Top