Ada seorang sahabat bertutur, dulu di jalan trans Kalimantan—ketika jalan masih hancur dan belum selesai—hampir tidak pernah terdengar kasus kecelakaan di jalan. Kini, setelah jalan mulus tanpa noda, hampir tak ingat lagi berapa orang yang meninggal sia-sia di jalan raya. Entah alasannya ialah keenakan ngebut, lengah, ngantuk, tidak konsen, dan sebagainya. Dan itu hampir tidak mungkin terjadi dikala jalan seakan-akan bak ikan beberapa tahun yang lalu.
Pun demikianlah hidup. Di dikala mulusnya hidup, justru banyak terjadi “kecelakaan”. Saya mau menyebarkan sebuah cerita inspiratif di masa lalu.
Pada tahun 1911, seorang pemain drama pengganti ternama, Boby Leach, melaksanakan agresi spektakuler terjun di Niagara dalam sebuah tong baja yang dirancang khusus. Dia berhasil terjun dengan selamat meskipun mengalami beberapa cedera ringan. Resepnya? Dia telah mengantisipasi ancaman yang sangat besar tanggapan aksinya. Dan ia telah mempersiapkan untuk melindungi diri.
Beberapa tahun kemudian, ketika sedang berjalan menyusuri sebuah jalan di Selandia Baru, Bobby Leach menginjak kulit jeruk. Terpeleset. Dia mengalami patah kaki yang parah. Bergegas orang-orang membawanya ke rumah sakit. Nyawanya tidak tertolong tanggapan komplikasi dari peristiwa itu.
Boby Leach, seorang pemain drama pengganti yang telah melewati banyak sekali agresi maut, justru mengalami cedera parah dikala berjalan kaki di Selandia Baru.
Disadari atau tidak, kecelakaan fatal justru sering terjadi di jalan mulus. Dan kehidupan berwajah serupa. Kita mudah terbuai dengan mulusnya kehidupan. Kekayaan dan kekuasaan justru lebih mudah menjerumuskan dan menjungkalkan hidup ketimbang kesusahan. Kita mampu saksikan cerita itu terbentang dalam banyak sekali media, dari dulu sampai kini.
Dengan demikian, ketika sedang dalam posisi di bawah: mampu jadi itu merupakan jalan keselamatan bagi kita, atau Sang Khalik sedang memberi waktu bagi kita untuk mempersiapkan diri dikala kelak melewati jalan mulus tetap selamat. Wallahu a'lam.
pinjam gambar dari sini
Tag :
Kontemplasi,
Pontianak

0 Komentar untuk "Usaha Kita Hati-Hati di Jalan (Mulus)"