Usaha Kita Oleh-oleh, lagi-lagi

Tanggal 8 Mei pukul 14.59, ada sms masuk. Mata melirik layar telpon jinjing. Ada nama Tonton di sana. Menyeruak sebuah alpa. Janji untuk mengirim foto-foto dikala seminar IT goes to UKM belum terlaksana. Akankah saluran internet rumahan disalahkan, lagi-lagi lagi. :)
Tapi tidak, mas Tonton justru memberi kabar pertemuannya dengan ibu Marie Pangestu, menteri Perdagangan RI.

courtesy:Virtual

Ah, bukankah itu isu baik. Ya, tapi aku masih juga merasa ada yang mengganjal. Masih hangatnya desakan penerima seminar untuk menerima “sesuatu” dari sebuah seminar. Meski sudah “terbangun”, penerima seminar masih merasa butuh pemantik agresi yang lebih dalam. Whats next? Ini mampu berarti sebuah antusiasme. Gayung yang haus sambutan. Tenang, anda tidak sendiri. :)

Oh ya, aku juga ingin mengupas sedikit wacana dua narasumber (Louise dan Tonton) yang seakan-akan terdapat friksi, antara gratisan dan berbayar. Antara bla-bla-bla atau ble-ble-ble. :) Dari perbincangan selama menuju bandara, mas Tonton berusaha meluruskan perbedaan tersebut. Intinya, ya intinya saja yang aku bahas, kedua “tipe rumah” memiliki kelebihan masing-masing. Ini juga menggambarkan segmentasi dan pangsa pasar yang ingin digarap. Mbak Louise, alasannya ialah garapannya pasar dalam negeri, jualannya souvenir, dan nyaris single fighter, tentu tidak butuh pabrik, cas-cis-cus Inggris, dan situs yang wah. Sebaliknya, mas Tonton, fokus garapannya global, punya gudang, punya belasan karyawan, tentu membutuhkan sebuah senjata yang tajam. So, apa target pasar yang ingin anda tuju? No pain, no gain.

Ssst, anda masih betah di rumah ini. Atau, aku bawa anda berjalan-jalan ke rumah-rumah lainnya. Ok.
Anda yang ingin berwirausaha, mampu menyambangi Tonton, Nukman Luthfie dan Yodhia Antariksa. Cukup tiga nama dulu. hehehe
Praktis hanya Tonton yang “benar-benar” menjual produk secara online. Tapi kalo anda sedikit jeli, mereka semua pemasar mumpuni lho. Mereka berhasil “menjual diri”-nya secara online. Hingga terbentuk imej yang positif, tanpa dibuat-dibuat. Mereka semakin dikenal lewat aktifitasnya di dunia maya. Ujung-ujungnya, klien berdatangan. Proyek menyapa dengan ramah, tanpa berdarah-darah. Blue ocean strategy mengejawantah di dunia maya. Sungguh.

Sekian, kini. Lanjut, nanti.
0 Komentar untuk "Usaha Kita Oleh-oleh, lagi-lagi"

Back To Top