Ambruknya ekonomi yang didasarkan penumpukan modal di segelintir institusi cukup mencengangkan. Perekenomian yang dibangun dengan menyisakan ruang-ruang kosong itu runtuh. Tentang ini semua, saya tidak berani mengulasnya. Penjelasannya saya serahkan pada Pak Dahlan Iskan. :)

1430. 2009. Tahun penuh Harapan. Cukup menggembirakan menyimak pernyataan Presiden SBY bahwa tahun 2009 yaitu tahun industri kreatif. Pernyataan yang cukup melegakan. Sebuah penghargaan kepada pemilik otak dan pekerja keras. Terjemahan bebasnya, bisa berupa "industri" pemilu yang dikemas lebih kreatif, supaya memikat konstituen. Pengusaha yang lebih kreatif mengakali defisit, tidak asal PHK. KPK yang lebih kreatif menindak dan mencegah korupsi, sampai tidak masuk belantara. Jurnalis yang kreatif meluangkan waktunya untuk memikirkan bahwa bad news itu bukanlah good news. Atau, kreatif dalam arti sesungguhnya. Yang jelas, saya tak tahu apa yang ada di benak Mr. President ketika mencanangkannya. Wallahu a'lam.
Menariknya lagi, lafal "industri kreatif" itu terucap ketika SBY menghadiri hari Ibu. Berkaca 2008, jatuhnya perekonomian, menimbulkan banyaknya "Bapak-Bapak" yang kolaps. Ibu-Ibu diminta unjuk diri. Membantu bergairahnya yin dan yang. Kreatif mengelola perekonomian. Maaf, sekali lagi, saya tidak memiliki hak mewakili Presiden SBY untuk menjelaskannya.
Setelah sedikit bergoogling-ria, ini jawabannya. Mungkin.
Berdasarkan siaran pers yang dilansir detikFinance, bentuk acara Tahun Indonesia kreatif yaitu berupa pameran 14 sub sektor ekonomi kreatif menyerupai bazar film, fashion dan musik, seminar, kompetisi dan penganugerahan pengharhaan terhadap insan-insan penggerak ekonomi kreatif, karnaval serta seni pertunjukan yang diselenggarakan oleh pemerintah, kaum intelektual dan pelaku bisnis dan juga komunitas kreatif.
Adapun kelompok besar yang menjadi unggulan 14 sektor ekonomi kreatif nasional yaitu fashion, kerajinan dan kriya. Sektor unggulan ekonomi kreatif yang lain yaitu film dan musik nasional yang telah melahirkan karya film, animasi, fashion, musik, sofware, game komputer yang rupawan dan berkualitas serta mendapat kesempatan untuk tampil di forum internasional.
Seperti diketahui, pasar industri kreatif juga sangat besar yaitu 47 persen dari penduduk indonesia karena ketika ini penduduk indonesia yang berumur di bawah 29 tahun. Mereka yaitu pasar ekonomi kreatif maupun sumber SDM kreatif.
Kontribusi ekonomi kreatif ini cukup besar terhadap perekomian indonesia yaitu mencapai 6,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, industri ekonomi kreatif juga telah berhasil menciptakan 5,4 juta lapangan kerja, pengurangan angka kemiskinan dan membantu pemberdayaan UKM
Saya tidak mau bicara orang-orang kreatif yang telah berhasil meng-uang-kan kreatifitasnya. Kisah sukses Bill "Microsoft" Gates, dwitunggal Larry Page "Google" Sergey Brin, Steve "Apple" Jobs, Soichiro Honda, Purdie "Primagama" Chandra, Ciputra, dan bla-bla-bla. Pada skala kecil, saya ingin menulis bahwa itu semua perihal kita. Kreatif itu ada di sini. Di bersahabat kita...
Ada seseorang teman, ia penggerak partai, yang memiliki kesempatan besar untuk menjadi caleg. Ya-iya-ya. Alih-alih menghamburkan uang dalam proses pencalegan, ia memilih menjajakan jasa pembuatan baliho, spanduk, kartu nama, dan atribut kampanye lainnya. Hanya bermodal hubungan dan silaturahmi. Para caleg menghamburkan rupiah, ia yang menampungnya. Untung belasan juta rupiah sebulan. Dia kreatif.
Seorang sobat membuka kursus nyaris tanpa modal. Murid-muridnya yaitu teman-temannya sendiri. Gumpalan pesimisme dari rekan-rekannya tidak menyurutkan langkahnya. Ia bertahan dan jadinya bisa membuka beberapa cabang. Kini terpilih menjadi wirausahawan berdikari tingkat nasional. Dia kreatif, juga.
Itu gres sekelebat daya ingat dalam dua bulan ini. Belum lagi di sekitar anda. Begitu banyak ruang yang disediakan untuk "yang kreatif".
Pikir-pikir plus bumbu nge-renung, Kreatif bukanlah soal otak kanan. Ia begitu bersahabat dengan kita. Ya, kita semua bisa kreatif. Asal mau dan maju. Take action.
Gladwell juga bilang, sukses bukan melulu karunia Yang Mahakuasa yang muncul begitu saja. Mengutip (lagi-lagi) penelitian ilmiah sebelumnya, Gladwell mantap mengatakan bahwa orang bisa sukses luar biasa karena menempa diri dengan latihan yang luar biasa kerasnya (disebut sebagai: ”The 10.000 Hour Rule”). Yaitu mereka melatih kemampuannya di satu bidang selama minimal 10.000 jam: kira-kira berlatih empat jam sehari secara terus-menerus selama sepuluh tahun.
Bill Gates sukses menciptakan Windows karena melatih kemampuannya mendisain software selama kira-kira 10.000 jam sebelum ia menciptakan software yang merubah dunia tersebut. The Beatles sukses menjadi ikon musik rock karena berlatih kira-kira 10.000 jam ketika diberi kesempatan manggung di sebuah klub di Hamburg setiap malam. Mozart menjadi komponis andal karena berlatih menggubah lagu selama lebih dari 10.000 jam sebelum ia menciptakan karya-karya legendarisnya.
So, kreatif-pun membutuhkan proses panjang. Tidak cukup waktu semalam, tidak semudah membalik telapak tangan. Ungkapan di atas saya kutip dari buku Malcom Gladwell yang dikupas dengan benar dan bernas oleh Yuswohady.
So, 2009 selayaknya masih memberi ruang dan waktu bagi kita untuk mensyukuri talenta yang dititipkan Ilahi: kreatifitas!
Ok, selamat nge-blog, dengan kreatif!

1430. 2009. Tahun penuh Harapan. Cukup menggembirakan menyimak pernyataan Presiden SBY bahwa tahun 2009 yaitu tahun industri kreatif. Pernyataan yang cukup melegakan. Sebuah penghargaan kepada pemilik otak dan pekerja keras. Terjemahan bebasnya, bisa berupa "industri" pemilu yang dikemas lebih kreatif, supaya memikat konstituen. Pengusaha yang lebih kreatif mengakali defisit, tidak asal PHK. KPK yang lebih kreatif menindak dan mencegah korupsi, sampai tidak masuk belantara. Jurnalis yang kreatif meluangkan waktunya untuk memikirkan bahwa bad news itu bukanlah good news. Atau, kreatif dalam arti sesungguhnya. Yang jelas, saya tak tahu apa yang ada di benak Mr. President ketika mencanangkannya. Wallahu a'lam.
Menariknya lagi, lafal "industri kreatif" itu terucap ketika SBY menghadiri hari Ibu. Berkaca 2008, jatuhnya perekonomian, menimbulkan banyaknya "Bapak-Bapak" yang kolaps. Ibu-Ibu diminta unjuk diri. Membantu bergairahnya yin dan yang. Kreatif mengelola perekonomian. Maaf, sekali lagi, saya tidak memiliki hak mewakili Presiden SBY untuk menjelaskannya.
Setelah sedikit bergoogling-ria, ini jawabannya. Mungkin.
Berdasarkan siaran pers yang dilansir detikFinance, bentuk acara Tahun Indonesia kreatif yaitu berupa pameran 14 sub sektor ekonomi kreatif menyerupai bazar film, fashion dan musik, seminar, kompetisi dan penganugerahan pengharhaan terhadap insan-insan penggerak ekonomi kreatif, karnaval serta seni pertunjukan yang diselenggarakan oleh pemerintah, kaum intelektual dan pelaku bisnis dan juga komunitas kreatif.
Adapun kelompok besar yang menjadi unggulan 14 sektor ekonomi kreatif nasional yaitu fashion, kerajinan dan kriya. Sektor unggulan ekonomi kreatif yang lain yaitu film dan musik nasional yang telah melahirkan karya film, animasi, fashion, musik, sofware, game komputer yang rupawan dan berkualitas serta mendapat kesempatan untuk tampil di forum internasional.
Seperti diketahui, pasar industri kreatif juga sangat besar yaitu 47 persen dari penduduk indonesia karena ketika ini penduduk indonesia yang berumur di bawah 29 tahun. Mereka yaitu pasar ekonomi kreatif maupun sumber SDM kreatif.
Kontribusi ekonomi kreatif ini cukup besar terhadap perekomian indonesia yaitu mencapai 6,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, industri ekonomi kreatif juga telah berhasil menciptakan 5,4 juta lapangan kerja, pengurangan angka kemiskinan dan membantu pemberdayaan UKM
Saya tidak mau bicara orang-orang kreatif yang telah berhasil meng-uang-kan kreatifitasnya. Kisah sukses Bill "Microsoft" Gates, dwitunggal Larry Page "Google" Sergey Brin, Steve "Apple" Jobs, Soichiro Honda, Purdie "Primagama" Chandra, Ciputra, dan bla-bla-bla. Pada skala kecil, saya ingin menulis bahwa itu semua perihal kita. Kreatif itu ada di sini. Di bersahabat kita...
Ada seseorang teman, ia penggerak partai, yang memiliki kesempatan besar untuk menjadi caleg. Ya-iya-ya. Alih-alih menghamburkan uang dalam proses pencalegan, ia memilih menjajakan jasa pembuatan baliho, spanduk, kartu nama, dan atribut kampanye lainnya. Hanya bermodal hubungan dan silaturahmi. Para caleg menghamburkan rupiah, ia yang menampungnya. Untung belasan juta rupiah sebulan. Dia kreatif.
Seorang sobat membuka kursus nyaris tanpa modal. Murid-muridnya yaitu teman-temannya sendiri. Gumpalan pesimisme dari rekan-rekannya tidak menyurutkan langkahnya. Ia bertahan dan jadinya bisa membuka beberapa cabang. Kini terpilih menjadi wirausahawan berdikari tingkat nasional. Dia kreatif, juga.
Itu gres sekelebat daya ingat dalam dua bulan ini. Belum lagi di sekitar anda. Begitu banyak ruang yang disediakan untuk "yang kreatif".
Pikir-pikir plus bumbu nge-renung, Kreatif bukanlah soal otak kanan. Ia begitu bersahabat dengan kita. Ya, kita semua bisa kreatif. Asal mau dan maju. Take action.
Gladwell juga bilang, sukses bukan melulu karunia Yang Mahakuasa yang muncul begitu saja. Mengutip (lagi-lagi) penelitian ilmiah sebelumnya, Gladwell mantap mengatakan bahwa orang bisa sukses luar biasa karena menempa diri dengan latihan yang luar biasa kerasnya (disebut sebagai: ”The 10.000 Hour Rule”). Yaitu mereka melatih kemampuannya di satu bidang selama minimal 10.000 jam: kira-kira berlatih empat jam sehari secara terus-menerus selama sepuluh tahun.
Bill Gates sukses menciptakan Windows karena melatih kemampuannya mendisain software selama kira-kira 10.000 jam sebelum ia menciptakan software yang merubah dunia tersebut. The Beatles sukses menjadi ikon musik rock karena berlatih kira-kira 10.000 jam ketika diberi kesempatan manggung di sebuah klub di Hamburg setiap malam. Mozart menjadi komponis andal karena berlatih menggubah lagu selama lebih dari 10.000 jam sebelum ia menciptakan karya-karya legendarisnya.
So, kreatif-pun membutuhkan proses panjang. Tidak cukup waktu semalam, tidak semudah membalik telapak tangan. Ungkapan di atas saya kutip dari buku Malcom Gladwell yang dikupas dengan benar dan bernas oleh Yuswohady.
So, 2009 selayaknya masih memberi ruang dan waktu bagi kita untuk mensyukuri talenta yang dititipkan Ilahi: kreatifitas!
Ok, selamat nge-blog, dengan kreatif!
0 Komentar untuk "Usaha Kita Tahun 2009, Tahunnya Blogger Kreatif"