Saat dunia bisnis sedang lesu, tengoklah sejenak pebisnis kuliner. Lihat mendalam wajah mereka. Pandangi lamat-lamat. Selalu ada senyum di bibir mereka.
Bukan tanpa alasan hadirnya sunggingan senyum itu. Setiap orang butuh makankan? Tak peduli dolar mau seratus ribu perrupiah. Perut yang satu-satunya ini perlu diisi materi bakar. Tinggal milih, mau masak sendiri atau makan di luar. Mau restoran bintang lima, atau kaki lima. Mau mentraktir atau ditraktir. Kebutuhan pangan selalu menjadi primer.
Anda tentu pernah membaca goresan pena saya perihal peluang yang kadang kita cuekin. Belum? Kalo gitu, coba simak dulu tulisannya di link berikut: Peluang Usaha itu Selalu Menyapa...
Peluang ketiga itu kembali datang. Menjadi trendsetter. Saya percaya bahwa yang pertama mendapat kerang, yang kedua mendapat cangkang. Jadilah yang pertama, bila tidak bisa, jadilah yang terbaik. Kalau tidak bisa, jadilah unik. Kalo msh tidak bisa, kembali ke poin pertama!
Maka peluang ketiga menghampiri: bisnis masakan kekinian yang lagi hits: ayam geprek. Gimana mampu peluang bisnis ini meloncat di benak? Begini kisahnya...
Syahdan, ketika istri melanjutkan kuliah di Jogja. Selama dua tahun, saya bolak balik ke kota pelajar yang masyhur kulinernya. Pada suatu waktu, di tengah keroncongan yang menderu. Lidah mengajak untuk merasakan kenikmatan Spesial Sambal. Tapi apa mau dikata, keriuhan dan keramaian pengunjung Spesial Sambal (SS), mengurungkan niat saya mampir. Kuda besi dipacu perlahan. Tak berapa jauh dari lokasi SS, terdapat keramaian yang tak kalah dahsyatnya. Ada masakan gres rupanya di erat kampus, demikian bibir saya berdesis.
Preksu namanya. Singkatan dari Ayam Geprek dan Susu. Saya eksklusif singgah. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta. Terhadap rasa dan harganya. Pertemuan kedua-ketiga-keempat-dst mudah terjadi.
Iseng saya menghitung, mampu seribuan porsi perhari disaji kepada pengunjung. Seratusan juta perbulan omset bersihnya. Itu dari sisi itung-itungan bisnis. Dan yang tak kalah menarik, setiap waktu shalat tiba, penggeprek berhenti untuk shalat jama’ah di masjid. Wow-wow-wow.
Singkat cerita, saya ingin menerbangkan bisnis serupa ke tanah Borneo, Pontianak. Ide bisnis yang harus segera dieksekusi. Saya menghitung kekuatan saku dan armada perang. Mendapati bisnis warkop yang agak keteteran. Ditambah, bisnis kavlingan yang masih membutuhkan uluran kasih sayang. Niat saya urungkan. Tapi tidak hangus. Adik saya yang menghapus riwayat penghapusan itu. Peluang bisnis ayam geprek ini disambut sumringah. Nama yang dipilih Ayam Geprek Hijrah.
Saat dibuka, gres satu kompetitornya di Pontianak: Geprek di Jalan Karimata. Kini rumah makan sejenis menjamur di seluruh pelosok kota. Yang keliatan menonjol, di Jalan Beringin dan Alianyang.
Sajian ayam geprek yang kremes dengan taburan keju menjadi andalan. Rasa garing yang tak kalah dengan renyahnya kentucky. Terbukti, anak saya menjadi pelanggan hariannya. Mau tahu rasa aslinya, silakan mampir ke Ayam Geprek Hijrah, Panglima Aim 102, samping PASS komputer.
Nah, demikian goresan pena pemanasan saya setelah sekian lama mati suri. Ada beberapa kemungkinan bila saya tidak aktif menulis: Pertama, terlalu melubernya "IDE" yang mau dieksekusi; kedua, terlalu seringnya survei kavlingan. Dan, ketiga, semuanya berbuah. Aamiin...
Salam berrkah berrlimpah!
*note: bagi komentator atau inbox pertama akan mendapat voucher makan di Ayam Geprek Hijrah plus bonus makan bersama saya. Gratis! :)
Bukan tanpa alasan hadirnya sunggingan senyum itu. Setiap orang butuh makankan? Tak peduli dolar mau seratus ribu perrupiah. Perut yang satu-satunya ini perlu diisi materi bakar. Tinggal milih, mau masak sendiri atau makan di luar. Mau restoran bintang lima, atau kaki lima. Mau mentraktir atau ditraktir. Kebutuhan pangan selalu menjadi primer.
Anda tentu pernah membaca goresan pena saya perihal peluang yang kadang kita cuekin. Belum? Kalo gitu, coba simak dulu tulisannya di link berikut: Peluang Usaha itu Selalu Menyapa...
Peluang ketiga itu kembali datang. Menjadi trendsetter. Saya percaya bahwa yang pertama mendapat kerang, yang kedua mendapat cangkang. Jadilah yang pertama, bila tidak bisa, jadilah yang terbaik. Kalau tidak bisa, jadilah unik. Kalo msh tidak bisa, kembali ke poin pertama!
Maka peluang ketiga menghampiri: bisnis masakan kekinian yang lagi hits: ayam geprek. Gimana mampu peluang bisnis ini meloncat di benak? Begini kisahnya...
Percayalah, fotonya tak seindah aslinya
Syahdan, ketika istri melanjutkan kuliah di Jogja. Selama dua tahun, saya bolak balik ke kota pelajar yang masyhur kulinernya. Pada suatu waktu, di tengah keroncongan yang menderu. Lidah mengajak untuk merasakan kenikmatan Spesial Sambal. Tapi apa mau dikata, keriuhan dan keramaian pengunjung Spesial Sambal (SS), mengurungkan niat saya mampir. Kuda besi dipacu perlahan. Tak berapa jauh dari lokasi SS, terdapat keramaian yang tak kalah dahsyatnya. Ada masakan gres rupanya di erat kampus, demikian bibir saya berdesis.
Preksu namanya. Singkatan dari Ayam Geprek dan Susu. Saya eksklusif singgah. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta. Terhadap rasa dan harganya. Pertemuan kedua-ketiga-keempat-dst mudah terjadi.
Iseng saya menghitung, mampu seribuan porsi perhari disaji kepada pengunjung. Seratusan juta perbulan omset bersihnya. Itu dari sisi itung-itungan bisnis. Dan yang tak kalah menarik, setiap waktu shalat tiba, penggeprek berhenti untuk shalat jama’ah di masjid. Wow-wow-wow.
Singkat cerita, saya ingin menerbangkan bisnis serupa ke tanah Borneo, Pontianak. Ide bisnis yang harus segera dieksekusi. Saya menghitung kekuatan saku dan armada perang. Mendapati bisnis warkop yang agak keteteran. Ditambah, bisnis kavlingan yang masih membutuhkan uluran kasih sayang. Niat saya urungkan. Tapi tidak hangus. Adik saya yang menghapus riwayat penghapusan itu. Peluang bisnis ayam geprek ini disambut sumringah. Nama yang dipilih Ayam Geprek Hijrah.
Saat dibuka, gres satu kompetitornya di Pontianak: Geprek di Jalan Karimata. Kini rumah makan sejenis menjamur di seluruh pelosok kota. Yang keliatan menonjol, di Jalan Beringin dan Alianyang.
Sajian ayam geprek yang kremes dengan taburan keju menjadi andalan. Rasa garing yang tak kalah dengan renyahnya kentucky. Terbukti, anak saya menjadi pelanggan hariannya. Mau tahu rasa aslinya, silakan mampir ke Ayam Geprek Hijrah, Panglima Aim 102, samping PASS komputer.
Nah, demikian goresan pena pemanasan saya setelah sekian lama mati suri. Ada beberapa kemungkinan bila saya tidak aktif menulis: Pertama, terlalu melubernya "IDE" yang mau dieksekusi; kedua, terlalu seringnya survei kavlingan. Dan, ketiga, semuanya berbuah. Aamiin...
Salam berrkah berrlimpah!
*note: bagi komentator atau inbox pertama akan mendapat voucher makan di Ayam Geprek Hijrah plus bonus makan bersama saya. Gratis! :)
Tag :
Bisnis,
Kuliner Pontianak


0 Komentar untuk "Usaha Kita Bisnis Kuliner Kekinian di Pontianak: Ayam Geprek Hijrah"