Stres, stres dan stres. Kata-kata yang demikian dekat dalam kehidupan masyarakat kota. Begitu tenar namanya namun tidak semua orang mau mendapatkan kehadirannya. Bahkan nyaris semua orang ingin menjauhinya.
Mau buktinya? Yang paling dekat ialah dikala mudik lalu; Yang masih bujang, stres dikala ditanya 'kapan nikah?' Yang lagi sibuk memburu lowongan kerja, stres ditanya 'kerja di mana?' Yang berkuliah, stres ditanya 'kapan wisuda?' Yang stres, stres ditanya 'Yang waras ngalah?' Stres hinggap di mana-mana.
Berbagai cara dilakukan untuk menghindarinya. Alih-alih mencari akar masalahnya.
Mau buktinya? Yang paling dekat ialah dikala mudik lalu; Yang masih bujang, stres dikala ditanya 'kapan nikah?' Yang lagi sibuk memburu lowongan kerja, stres ditanya 'kerja di mana?' Yang berkuliah, stres ditanya 'kapan wisuda?' Yang stres, stres ditanya 'Yang waras ngalah?' Stres hinggap di mana-mana.
Berbagai cara dilakukan untuk menghindarinya. Alih-alih mencari akar masalahnya.
***
Alkisah, pada suatu hari, penulis buku fenomenal Seven Habits of Highly Effective People, Stephen Covey, menunjukkan mata kuliah administrasi stres. Ia memulai kuliah dengan mengangkat segelas air. Dia lalu bertanya, "Menurut Anda, berapa berat segelas air yang saya pegang?”
Mahasiswa mengeluarkan balasan yang beraneka ragam, dari dua ratus hingga lima ratus gram. “Yang mau saya tanyakan ialah bukan problem berat absolutnya. Namun berapa lama kita memegangnya?” Covey coba menjelaskan maksud pertanyaannya. Mahasiswa masih bingung.
"Jika saya mengangkat gelas air ini terus menerus, meski beratnya tak seberapa, lambat laun saya tidak akan bisa membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya. Anda harus memanggil ambulan buat saya." Para mahasiswa mengangguk sambil tersenyum. Mulai sedikit mengerti.
Covey melanjutkan, “Apa yang harus saya lakukan yaitu meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya kembali."
Artinya, kita harus meninggalkan beban secara periodik, semoga kita dapat lebih segar dan bisa memikulnya lagi.
Kadang, stres timbul bukan karena beratnya masalah. Seringkali stres hadir karena kita menumpuk masalah, meski kecil, secara terus menerus. Akumulasi problem melahirkan stres, bahkan depresi dalam diri. Ketika sudah menumpuk, problem kecil pun bisa menjadikan luapan amarah. Orang yang tidak tahu menahu pun kerap terkena getahnya: kemarahan tanpa sebab.

Kisah inspiratif lainnya...
Peserta pelatihan sebuah lembaga konsultan SDM mengunjungi sebuah Rumah Sakit Jiwa. Mereka diajak berkeliling melihat pasien ditemani beberapa orang dokter dan perawat.
Tiba di bangsal pria, beberapa penerima melihat seorang pria yang menyendiri dan meratap sambil sayup-sayup berkata, ”Sinta, Sinta!
Peserta heran melihat ulah pria tersebut dan bertanya kepada dokter mengapa pria tersebut bersikap demikian. ”Pria itu stres karena cintanya ditolak dan ditinggal kawin oleh si Sinta,” jawab Dokter.
Peserta mengangguk tanda mengerti. Mereka melanjutkan perjalanan ke kamar lainnya. Kali ini mereka kaget lagi melihat seorang pria yang berteriak-teriak sambil memukul dinding. Peserta tambah kaget karena yang diteriakkannya nama yang sama dengan pasien sebelumnya, Sinta. Mereka bertanya ke dokter apa yang bersama-sama terjadi dengan pasien tersebut. Dokter menjawab, ”Inilah pria yang alhasil menjadi suami Sinta!”
Setelah puas berkeliling di bangsal pria, mereka melanjutkan ke bangsal wanita. Bangsal wanita relatif sepi hingga pengunjung lebih leluasa menjenguk pasien hingga ke dalam kamar. Mereka lagi-lagi terkejut mendengar seorang wanita indah sedang menyanyi dengan bunyi keras beberapa bait lagu yang diulang-ulang. Dialah Sinta yang disebut oleh kedua pasien di bangsal pria. Si Sinta menyanyi lagu yang sama namun dengan posisi badan yang berubah-ubah.
Setelah agak lama menahan diri, alhasil pengunjung tidak kuasa bertanya dikala melihat Sinta menghentikan nyanyiannya, “Mengapa kau bernyanyi dengan posisi yang berubah-ubah, terlentang dan tengkurap?” Sinta menjawab, ”Pada dikala tengkurap, saya sedang menyanyikan lagu Kun Anta versi Arab, dan dikala terlentang, saya lagi menyanyikan versi Indonesia-nya!”
***
Demikianlah hidup. Bila tidak pandai-pandai menyikapi suatu kondisi, semua bisa menjadi penyebab stres. Pada dikala tidak punya kerja, stres mencari peluang kerja. Saat sudah punya kerja, stres mikirin posisi yang tidak naik-naik. Saat sudah punya posisi, stres tidak bisa bebas mengambil cuti. Saat sudah punya waktu luang, rupanya dikala itulah berakhirnya dunia kerja alias dipecat.
Bila demikian, ternyata stres itu lahir bukan karena suatu problem atau suatu kondisi. Tapi stres hadir kalau kita salah dalam menyikapi suatu kondisi. Kita lupa bersyukur atas apa yang kita miliki dikala ini. Luput merayakan hidup.
Saat sibuk di dunia kerja, syukurilah bahwa ada yang punya pekerjaan tapi tidak diberi jabatan. Saat posisi stagnan, syukurilah bahwa masih banyak yang sibuk mencari kerja. Saat sibuk mencari kerja, syukurilah masih banyak yang mau kerja tapi belum lulus kuliah.
Maka bersyukurlah, rayakanlah hidup anda hari ini. Bahagia itu di sini. Demikianlah cara ampuh mengatasi stres.
0 Komentar untuk "Usaha Kita Cara Ampuh Mengatasi Stres: Bersyukurlah!"