Seorang perjaka merasa bimbang dan resah dengan kehidupannya. Dia selalu mempertanyakan setiap yang ditemuinya, dan ia akan protes kalau dirasakannya bertentangan dengan nuraninya. Protes itu mampu pada diri sendiri, keluarga, teman maupun kepada Tuhan.
Suatu saat, ia mengelilingi kota. Dilihatnya pengemis di simpang jalan, belum dewasa tanpa baju tiduran di tengah halte, orang renta renta meminta penuh harap, dan sejuta insan kekurangan bergelimpangan di depan matanya.
Tidak tahan melihat kondisi tersebut, ia berteriak di dalam hati. Memprotes Tuhan.
“Tuhan, Kau sungguh tidak adil, mengapa Kau tidak pernah berpihak pada mereka, kaum tertindas? Kau sama sekali tidak melihat dan mencicipi apa mereka rasakan! Kau tidak berbuat apa-apa!”
Dia berteriak sekuat tenaga. Sampai titik bunyi yang terakhir.
Tiba-tiba, sekonyong-konyong, jauh di dalam lubuk hatinya ia mencicipi getaran, "Aku sudah berbuat banyak, Aku telah menciptakan kamu!"
sumber: Semua Jalan Menuju Sukses, 2006
Suatu saat, ia mengelilingi kota. Dilihatnya pengemis di simpang jalan, belum dewasa tanpa baju tiduran di tengah halte, orang renta renta meminta penuh harap, dan sejuta insan kekurangan bergelimpangan di depan matanya.
Tidak tahan melihat kondisi tersebut, ia berteriak di dalam hati. Memprotes Tuhan.
“Tuhan, Kau sungguh tidak adil, mengapa Kau tidak pernah berpihak pada mereka, kaum tertindas? Kau sama sekali tidak melihat dan mencicipi apa mereka rasakan! Kau tidak berbuat apa-apa!”
Dia berteriak sekuat tenaga. Sampai titik bunyi yang terakhir.
Tiba-tiba, sekonyong-konyong, jauh di dalam lubuk hatinya ia mencicipi getaran, "Aku sudah berbuat banyak, Aku telah menciptakan kamu!"
sumber: Semua Jalan Menuju Sukses, 2006

0 Komentar untuk "Usaha Kita Aku menciptakan kamu!"