Usaha Kita Antri Bensin dan Spekulan kecil-kecilan

Di Pontianak, tanyalah kepada pengantri bensin, siapa (/apa) yang paling dibutuhkannya ketika ini? Jawabannya: Reshuffle. Hahaha.
(Dan aku gres mengisi bensin seharga Rp 15.000 dan melihat penjualnya merasa tidak bersalah dengan harga tersebut)

Tentu sebelum ribut-ribut soal reshuffle, masyarakat Pontianak tidak terlalu peduli dengan hiruk pikuknya panggung politik nasional. Ribut di sana, tidak besar lengan berkuasa pada jalan trans Kalimantan yang belum kunjung terwujud; pelabuhan udara dan laut yang hanya muat untuk “sampan” atau pesawat capung; rendahnya tingkat pendidikan di Kalimantan Barat; dan banyak lagi potret kebijakan sentra yang tidak memihak Kalbar.

Ya, sudahlah, masyarakat di sini, dan di Indonesia, sudah terbiasa bergerak tanpa pemimpin. Mimpi-mimpi individulah yang masih memberi ruang untuk memelihara harap. Beruntunglah pemimpin yang memiliki rakyat yang tidak butuh pemimpin. Karena dengan begitu, beliau mampu bebas berbuat apa saja tanpa tekanan dari siapapun. Dia mampu total mengurus negara, tanpa merasa bersalah tidak memenuhi hasrat spekulan politik di sekitarnya. Meski berjarak, tetaplah dekat!
Idealnya. Lho!

Ya, kita terbiasa hidup dengan misteri. Yang kadang diimbuhi benci. Melihat suatu situasi, kacamata prasangka selalu melekat. Apakah kita menjadi begitu menikmati aroma toilet alasannya ialah sudah terbiasa? Di TV, koran, dan lainnya, "aroma toilet" disebarkan. Spekulan informasi yang tanpa hati.

(Saatnya diet mengkonsumsi media visual dan cetak yang kerap membuatkan spam)

*IndonesiaBergerak*
image: Pontianakpost.com
Tag : Opini, Pontianak
0 Komentar untuk "Usaha Kita Antri Bensin dan Spekulan kecil-kecilan"

Back To Top