Usaha Kita Bahkan Umar bin Khattab Pun Punya Masa Lalu...

Kaget. Sikap wajar ketika mendengar pernyataan Ketua DPR, Marzuki Ali. Setelah ihwal “Bencana Nias”, kali ini dia ‘berulah’ lagi untuk kesekian kalinya. Meluncur ucapan yang seolah mencederai rasa keadilan rakyat banyak. Di tengah kegetiran melihat kemiskinan, pengangguran merajalela, angka putus sekolah—yang secara tidak pribadi diakibatkan oleh menguapnya anggaran pembangunan. Sang Ketua malah melontarkan undangan yang berseberangan dengan sikap masyarakat banyak. Benarkah demikian?

“Seluruh koruptor dipanggil pulang suruh bawa uangnya masuk, kenakan pajak. Kita saling memaafkan seluruh Indonesia, memaafkan koruptor, semuanya dimaafkan. Tuhan saja memaafkan semua manusia.” Demikian proposal kontroversial Marzuki. Sebuah Korupsi Itu, Desember 2007).

Demikian goresan pena saya di blog, tahun 2007 lalu. Buah pikir yang terlontar nakal. Dan hingga sekarang, sikap saya tak berubah: Maafkan koruptor! Memang sulit. Sangat sulit, terlebih bagi kita yang menjadi korban (atau hidup?) dari koruptor.

Saya melihat begitu rapinya jamaah koruptor. Kadang, sadar atau tidak, saya menjadi makmumnya. Korupsi dilakukan secara sistematis. Semua terlibat, semua mencicipi manfaat. Hujan merata di seluruh lini. Hampir tidak ada sedikitpun yang tak kecipratan. Dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Bahkan cipratannya kadang kena juga pada dua elemen yang masih kita percaya: jurnalis dan LSM.

Kalau si A melaksanakan korupsi besar sulit diselesaikan secara hukum, sebab si A sudah menyandera si B sebagai orang yang menegakkan hukum. Karena si B telah disuap juga. Ketika si B mau menyuruh si C, hal tersebut juga tidak mampu sebab si C juga telah disuap. Sehingga hampir tidak ada ketika sekarang kekuatan yang dapat menggunting ini,” demikian analisa ketua MK, Mahfud MD ihwal korupsi dalam sebuah kesempatan. Saya mengamininya.

Melihat kondisi demikian, kita tak boleh lelah. Kita tak ingin menjadi salah satu dari negara gagal. Korupsi harus segera diberantas dikurangi. Memaafkan koruptor berarti memutus mata rantai dengan masa lalu. Kita jangan menghabiskan energi dengan melihat 'spion' yang kadang menjadikan kendaraan bangsa tidak maju-maju. Koruptor yang bersalah di masa rezim bobrok, tidaklah adil jika dihukum ketika hukum memiliki wibawa kelak. Formulasinya mampu digodok bersama. Tetapkan limit yang jelas. Dan beri ruang pada Presiden SBY untuk mengambil langkah strategis dan, berani!

Allah, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim saja memaafkan hambanya. Sekeji apa pun dosanya. Sebesar apa pun ma'siatnya. Apakah kita tidak bisa? Memang, memaafkan tidak menjamin koruptor itu akan menjadi semulia Umar bin Khattab. Tapi saya yakin, mereka tidaklah sepandir keledai yang mau masuk ke lubang yang sama dua kali.

Seiring memaafkan koruptor, godok UU Pembuktian Terbalik, bersihkan “sapu” kotor, rancang hukuman setimpal bagi koruptor berhati keledai. Kita dorong secara berjamaah pula. Dan sekali lagi, bahkan Umar bin Khattab pun punya masa lalu, tapi hanya keledai yang masuk ke lubang yang sama dua kali.

Akhirnya, menyambut bulan suci Ramadhan, mudah-mudahan kita mampu jernih ketika mendapatkan masukan apa pun, demi negeri ini. Kita tentu tak ingin negeri ini berhenti…

image
0 Komentar untuk "Usaha Kita Bahkan Umar bin Khattab Pun Punya Masa Lalu..."

Back To Top