Tidak sepenuhnya salah jika ada yang memprediksi jika kelak bisnis warnet akan mengalami stagnasi, atau kematian—seperti bisnis wartel. Dengan kemajuan perangkat nirkabel dan handphone terkini, berseluncur di dunia maya hanya sekelebatan jemari merogoh kocek yang tergeletak HP atau bopongan sebongkah laptop, tak perlu melangkah ke warnet lagi.
Tidak sepenuhnya salah memang, jika core businessnya hanya jasa internet tok. Warnet yang sekedar browsing. Dengan demikian, prediksi itu lambat laun akan menemukan kebenarannya.
Jelas aku telah memperhitungkan hal tersebut. Di tahun pertama wirausaha, aku mencoba diversifikasi bisnis: printing, basuh photo, jual ATK, dan insya Tuhan segera diluncurkan toko komputer PASS dengan ruang terpisah di “toko sebelah”. Mohon doanya.
Sebagian dari rekan menyiasatinya dengan membangun warnet game online. Sudah aku coba, hanya saja aku belum sanggup melihat riuhnya anak sekolah dan anak kecil yang mampir, plus orang renta yang kerap menjemput anaknya.
Sejatinya, bisnis warnet bagi aku bukanlah sekedar bisnis offline—sekedar menyediakan ruang bagi penyewa jasa internet. Selain tidak kreatif, juga seolah menyiapkan tiang gantungan bagi bisnis. Jujur, di tengah pasang surut bisnis warnet selama 3 tahun terakhir ini, bisnis online-lah yang bisa menopang gelombang samudera bisnis saya.
Pada awal wirausaha warnet, aku menyengaja bahwa bisnis aku bahwasanya bukanlah (hanya) warnet. Tapi “internet”-nya. Benar, bisnis online dan offline-nya.
Kuat melekat di benak, dikala mendapat order website salah satu Kabupaten. Dengan bermodal laptop, aku beranjangsana dari cafe hotspot satu ke kafe lainnya, demi merancang web dan upload content. Secangkir kopi susu plus roti bakar kerap menjadi sahabat di setiap persinggahan. Cafe hotspot ibarat kantor sendiri. Waktu itu, hampir sebagian besar pekerjaan aku bersinggungan dengan internet. (Kini pun masih).
Alhamdulillah, mengagumkan nian kenangan itu...
Kini, membuat website, buku, silaturahmi online, blogging, sampai toko online yang lagi dirintis, semuanya terbantu dengan adanya warnet, yang notabene milik sendiri. Dan aku tetap meyakini, bisnis (yang bukan sekedar) warnet akan bertahan lama dan sungguh mengejutkan turunannnya.
Berani mencoba?
- foto diambil dikala berkemas guna open house PASS setelah seminggu libur lebaran, pukul setengah empat subuh. Pada kesempatan ini aku juga ingin menghaturkan seruan maaf yang setulusnya kepada khalayak pembaca. Mohon maaf lahir batin.
- Bila ingin mendapat wangsit lebih, silakan berkunjung ke: Abang Warnet yang Menjadi Mbah-nya Internet Marketing Indonesia

0 Komentar untuk "Usaha Kita Bisnis Warnet, Jangan Sekedar Bisnis Offline-nya"