Perlahan tapi pasti, Liga Italia nyaris memudar popularitasnya. Dimulai dengan terungkapnya pengaturan skor sampai kesulitan keuangan melilit beberapa klub. Liga Italia berada di bibir kehancuran—hanya menjadi kompetisi kelas dua.
Meski persaingan masih sengit— dengan menyisakan Juventus-Milan dalam jalur perebutan scudetto—tapi aroma publisitasnya kalah jauh dibanding liga Spanyol dan Inggris. Dibanding Lega Italia, perburuan gelar antara Madrid-Barcelona lebih seksi bagi media dan, blogger kayaknya.
Bila di Inggris persaingan MU dengan Manchester City masih memanas sampai pekan-pekan ini, di Spanyol kondisinya serupa. Pelakonnya tak lain: Barcelona dan Real Madrid. Dua seteru yang terkenal royal menggelontorkan uang untuk menggaji pemainnya.
Dan tengah malam ini, bila prediksi menjadi fakta di lapangan—Madrid menghempaskan Bilbao—maka kita akan mengetahui lebih dini siapa jawara La Liga meski ada 3 pertandingan tersisa. Madridlah yang akan menggeser tahta yang telah digenggam Barcelona selama 3 ekspresi dominan berturut-turut.
Kita patut berterima kasih kepada kedua klub ini. Madrid-Barcelona telah menghadirkan tontonan seru penuh skil, taktik dan intrik dalam 3 tahun terakhir. Sebuah hadiah bagi sepakbola modern.
Dari dua klub tersebut, kita disuguhi hal menarik. Bahwa di sepakbola, persaingan tidak hanya hadir di dalam lapangan; bahu-membahu di luar lapangan “pertandingannya” tak kalah menarik.
Simak perang urat syarat antara pedasnya komentar Mourinho dan dinginnya balasan Guardiola. Dari keduanya lahir pula komentar tak kalah panas dari media dan para penggila bola. Tanpa disadari, keduanya membikin roda kompetisi memanas dan menggairahkan.
Setali tiga uang dengan pelatihnya, Messi-Ronaldo juga terlibat perang, tapi tidak lewat verbal. Mereka berlomba memecahkan rekor langsung masing-masing. Dari jumlah gol sampai gelar yang bisa direngkuh. Persaingan menjadi tambah sengit alasannya ialah di dada mereka terpatri gelar pemain terbaik dan termahal dunia dunia.
Rasa salut makin membuncah untuk keduanya juga alasannya ialah mereka bisa mempertahankan performa terbaiknya untuk sekian lama. Bila dihitung, hampir selama 5 tahun mereka bisa tampil konsisten menawarkan kemampuan terbaiknya. Nyaris tanpa cedera dan penurunan performa.
Ada awal tentu ada akhir. Ada ketika datang, ada ketika pergi.
Di ekspresi dominan yang akan datang, aku pikir aromanya tidak sepanas 3 ekspresi dominan terakhir. Siapa lagi yang menurunkan tensi ini jikalau bukan Guardiola. Setelah bisa menyempurnakan polesan Rijkard dengan taktik tiki taka-nya, Guardiola pamit. Inilah klimaks persaingan antara Madrid dan Barcelona.
Guardiola memutuskan rehat sejenak dari hingar bingar sepakbola. Agaknya beliau ingin menenangkan jantung yang kerap berdegup kencang tiga tahun terakhir ini. Pelatih mana yang tidak sport jantung bila penguasaan bola dan serangan bertubi-tubi kadang tidak membuahkan kemenangan?
Sejak pengumuman pengunduran dirinya, aku melihat akan terjadi perubahan peta persaingan di La Liga. Di luar kedua tim ini, ada beberapa klub yang berpeluang meramaikan bursa juara ekspresi dominan depan. Perburuan gelar La Liga pun semakin terbuka...
Selamat Messi-Ronaldo! Selamat Guardiola-Mourinho! Selamat Barca-Madrid!
image: AP

0 Komentar untuk "Usaha Kita Musim ini, Klimaks Persaingan Madrid-Barcelona"