Usaha Kita Stop Pencuri Impian. Mulailah Aksi!



“Anda harus melaksanakan sesuatu yang Anda pikir Anda tidak bisa lakukan.” (Eleanor Roosevelt)
Menutup tahun 2011 ini, ibarat tahun-tahun sebelumnya, evaluasi, muhasabah, review kehidupan selalu menantang benak. Ketika apa yang diimpikan menjadi realita, tentu kebahagiaan hinggap. Begitupun sebaliknya, jikalau ide dan impian hanya bersliweran di otak, tanpa bisa mengungkapkan, apalagi mewujudkan, tentu menjadi infeksi yang tak kunjung pecah.

Ide itu kadang, semustahil apapun, bisa diwujudkan dengan prinsip: yang mustahil di dunia ini hanyalah kemustahilan itu sendiri. Nothing is impossible! Tapi, inspirasi (dan mimpi) itu seringkali, sekecil apapun, tak bisa kita laksanakan alasannya ialah ketidakyakinan kita untuk mewujudkannya. Ketika ketidakyakinan itu mendarah daging, tinggallah asa menjadi nestapa.

Menyalahkan orang lain, seringkali dilakukan bila mimpi diri tak kunjung menjadi. Kambing hitam menjadi harta berharga. Mereka mencari si kambing yang sesungguhnya tidak ke mana-mana, ada di rumah mereka sendiri. 

Tutup tahun ini, saya ingin membuka dengan sebuah kisah yang biar dapat menjadi pemicu antusiasme anda untuk hari ini, dan esok hari, 2012.

Alkisah, ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Dia merupakan penari terbaik di sebuah sanggar tari. Dia bermimpi, dengan bakat yang dimilikinya ketika ini, suatu hari nanti, beliau ingin menjadi penari bertaraf internasional. Dengan kemampuannya, beliau bisa melanglangbuana ke Rusia, China, Inggris, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan penonton.

Suatu hari, kotanya dikunjungi seorang pakar tari yang berasal dari luar negara. Pakar ini sangatlah hebat. Lewat tangan dinginnya telah banyak penari-penari kelas dunia lahir. Gadis muda ini ingin sekali unjuk diri di depan sang pakar tersebut, malah jikalau bisa, menjadi muridnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda menemui sang pakar di belakang panggung. Si gadis muda bertanya, “Tuan, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah tuan punya waktu untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat tuan perihal tarian saya.”

“Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit,” jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar bangkit dari kursi, lalu pergi meninggalkan si gadis muda, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sang gadis bengong.

Betapa hancur si gadis melihat sikap sang pakar. Dia berlari keluar, mencari sang pakar. Nihil. Pulang ke rumah, beliau menangis sepuas-puasnya. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini beliau bangga-banggakan tidak ada maknanya di hadapan sang pakar. Kemudian beliau ambil sepatu tarinya, lalu dilemparkan ke dalam gudang. Sejak ketika itu, beliau bersumpah tidak akan menari lagi.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Untuk menghidupi keluarganya, beliau bekerja menjadi pelayan di sebuah kedai.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari kolosal yang diadakan di kota itu. Sebuah pertunjukan yang mengundang pakar tari dari banyak sekali penjuru dunia. Tak ketinggalan, sang pakar tari kembali hadir. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Dia tidak dapat melupakan masa lalunya. Dan berharap dapat berjumpa dengan sang pakar, kembali.

Selesai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, “Tuan, ada satu pertanyaan yang terpendam bertahun-tahun di hati saya perihal penampilan saya sewaktu menari di hadapan tuan. Sebegitu buruknya kah penampilan saya ketika itu, sehingga tuan terus pergi meninggalkan saya, tanpa berkata sepatah kata pun?”

“Oh ya, saya ingat peristiwa itu. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kau lakukan waktu itu. Saya rasa kau akan menjadi penari kelas dunia. Saya malah kaget begitu mengetahui kau tiba-tiba berhenti dari dunia tari,” jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawapan sang pakar. “Ini tidak adil,” seru si ibu muda dalam hati. “Sikap tuan telah mencuri semua keinginan saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa tuan meninggalkan saya begitu saja ketika saya gres menari. Tuan seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Jika tidak, pasti sekarang saya sudah menjadi penari bertaraf dunia. Bukan hanya menjadi pelayan kedai.” ujar ibu muda dengan gelegak kecewa yang mendalam.

“Tidak …. tidak, saya rasa telah berbuat yang sepatutnya. Anda tidak semestinya minum anggur satu tong untuk pertanda anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk pertanda tarian anda bagus. Malam itu, saya sangat lelah setelah pertunjukan pentas. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda keburu pergi,” pakar menjelaskan dengan runtut. “Dan satu hal yang perlu anda pahami, bahwa anda sepatutnya fokus pada keinginan anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.”

“Dan pujian, kau mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kau sedang belajar. Pujian itu ibarat pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasi, namun bisa jadi melemahkanmu. Dan faktanya, saya melihat bahwa sebagian besar kebanggaan yang diberikan pada ketika seseorang sedang belajar, hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Lagipula, kebanggaan itu seharusnya datang dari keinginan saya sendiri. Anda tidak sewajarnya meminta kebanggaan dari orang lain.”

“Anda lihat, ini bahwasanya hanyalah duduk perkara remeh. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.”

“Mungkin anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati anda akan cepat hilang setelah anda berlatih kembali. Tapi sakit hati alasannya ialah penyesalan anda hari ini, tidak mungkin hilang selama-lamanya.”

Demikian, kisah yang menggambarkan betapa pentingnya fokus pada keinginan dan abai terhadap pencuri impian. Bisa jadi pencuri keinginan itu ialah diri kita sendiri yang memberi stempel “tidak bisa” dalam alam bawah sadar kita.

Semoga di tahun 2012, kita bisa mewujudkan asa, inspirasi dan keinginan kita dengan keberanian yang menyala. Yakinlah, kita bisa mewujudkannya, meski tak ada seorang pun yang percaya. Tapi kita akan gagal, bila kita tidak percaya pada diri kita sendiri.

foto pinjam dari sini
0 Komentar untuk "Usaha Kita Stop Pencuri Impian. Mulailah Aksi!"

Back To Top