Usaha Kita Jokowi, Prabowo dan Janji Kampanye

jkw4p
Semuanya gara-gara Jokowi. Tak berhitung bulan, 'bismillah' Jokowi pada 14 Maret untuk maju sebagai calon presiden merusak peta pertarungan ke tampuk istana, khususnya buat Prabowo—tokoh yang berpeluang paling besar menjadi presiden jikalau head to head dengan Megawati atau Aburizal Bakrie.

Jika tidak ada aral, insya Yang Mahakuasa Jokowi atau Prabowo yang akan menjadi Presiden 2014. Dua nama yang menjadi info ‘seksi’ di masa kampanye ini. Meski kepastian pencalonan mereka masih menunggu angka keramat ‘20 %' tapi setidaknya dari beberapa survei, nama keduanyalah yang menjadi pemuncak. Meski tidak berbanding lurus dengan popularitas partai, Aburizal Bakrie mungkin menjadi orang ketiga yang menghiasi pesta demokrasi tahun ini—minus elektabilitas memadai.

Saya rasa, inilah pesta demokrasi paling seru pasca reformasi: Pemilu 2014.

Politik ialah momentum. SBY menjadi sucess story-nya. Tahun 2014, dengan masa persiapan yang singkat, ia berhasil meraih dingklik istana bermodal partai gurem: Demokrat. Sang tokoh reformasi, Amien Rais; dan incumbent, Megawati berhasil ditelikungnya.

Mundur dari dingklik menteri, polesan jenderal teraniaya, tim pencitraan yang mumpuni dan anti tesa dari incumbent—SBY berhasil memanfaatkan momentum dan langgeng sampai dua periode.
Kini tongkat estafet itu siap berpindah.

9 April: Pileg atau Pilpres?

“Saya tidak akan memilih Jokowi pada 9 April nanti,” demikian status senada beberapa orang sobat di Facebook.

Meski terkesan satir, status ini menyadarkan kita: pilpres belum dimulai. Bahkan Jokowi dan Prabowo pun belum pasti tampil—bila ambang batas 20 % tidak terpenuhi.

PDIP-Gerindra

Ya, sekarang kontestasi masih beragenda pemilihan legislatif. Pemilihan wakil ke Senayan dan dingklik dewan di daerah. Sayangnya, entah alasannya ialah menyadari ketiadaan isu besar dan figur yang gemuk modal sosial, alih-alih berkampanye perihal program, partai-partai malah sibuk menggotong calon presiden kesana kemari.

Miskin langgar program, kaya debat black campaign capres yang belum tentu nyapres.

Di sosial media, perang antar tim capres begitu telanjang. Kentara kala mencermati tim sukses Jokowi vs Prabowo atau PKS vs PDI Perjuangan (vs ialah versus, bukanlah berarti permusuhan, hanyalah untuk memudahkan penyampaian pesan). Melegendanya tim online DKI 1 Jokowi menginspirasi tim sukses capres dan partai-partai untuk mengoptimalkan dunia maya. Tapi, mungkin, alasannya ialah hanya perpindahan tim saja—Jokowi ke Prabowo dan sebaliknya—maka terasa riuhnya kicauan di media umum kurang membawa dampak bagi demokrasi itu sendiri. Senjata antar tim sukses cenderung sama: negatif (bukan black!) campaign.

(kini ada amunisi pemanis yang lebih berbudaya: puisi dan pantun)

Saya sendiri berharap, ada partai yang menyerang aktivitas partai lainnya, salah satu contoh: partai Gerindra. Kupas dan bedah. Realistis atau utopis. Demikian juga sebaliknya. Bagaimana caranya memberantas korupsi yang dalam dua periode kepemimpinan Pak SBY seakan menjadi-jadi? Bagaimana keterwakilan perempuan di kabinet tidak menafikkan zaken? Bagaimana cowok mendapat tugas aktual dalam pembangunan? Mengapa dan bagaimana... Hingga perdebatan dan tweet-an berujung pencerdasan pada penonton (baca: pemilih).

Alhasil, yang didapatkan solusi bagi bangsa, dari apapun partainya. Hak ciptanya milik bangsa Indonesia. Kita semua.

Fenomena lain yang cukup menarik pada pemilu kali ini, tak mampu dipungkiri, ialah ‘Jokowi effect’—paham blusukan yang menular dalam pileg ini. Terbukti, kampanye terbuka kian tak diminati para caleg, dan pemilih. Sepi dan jauh dari hingar bingar, kecuali ketika PKS di Gelora Bung Karno mungkin. Para caleg kini eksklusif blusukan ke jantung pemilih. Terjun langsung, bersama tim sukses atau lewat pamflet yang disebar. Iming-iming, janji-janji eksklusif ditebar ke konstituen, yang siap menagihnya.

Tidak ada yang salah dengan janji. Meski kini, berjanji seolah tabu. Laksana utang, akad harus dilaksanakan, bukan diingkari. Bila caleg tanpa akad dan komitmen, yang tersisa hanyalah serangan darat berupa amplop. Dan, ketika itulah berakhirnya ikatan untuk 5 tahun. Bayar lunas di depan. Dan memburu balik modal selama 5 tahun. Pengalaman yang tentu tidak ingin kita ulangi bukan?

Foto: Tempo dan Google
Tag : Jokowi, Politik
0 Komentar untuk "Usaha Kita Jokowi, Prabowo dan Janji Kampanye"

Back To Top