Usaha Kita Kuliner Jogja yang Bakal Melegenda

Kuliner Jogja memang misteri yang mengundang rindu. Dengan ribuan pilihan, selalu saja terselip satu-dua yang lekat di ujung lidah. Meski soal selera pengecap tak selalu seragam. Tapi jubelan antrian pengunjung dan kokoh bertahan di tengah gempuran jaman bisa menjadi penanda sang legenda masakan di Jogja. Kuliner Jogja yang tidak hanya murah tapi juga enak.

Setelah dua dekade absen, kesannya aku ‘terpaksa’ harus ke Jogja 4 kali dalam 2 tahun terakhir—demi peran negara kesatuan rumah tangga. Tak lengkap kalau ke kota Jogja tanpa berburu ranum kulinernya. Ada beberapa masakan yang menjadi langganan selama aku di Jogja, ibarat Sate Klatak Bantul, Soto Bu Cip, Oseng Mercon dan Mie Ayam (di mana saja).

Berikut sharing aku wacana masakan khas Jogja, sedikit subyektif tentunya. Kuliner Jogja yang tidak hanya murah tapi juga enak. Semoga manfaat buat pencinta dan pebisnis kuliner.

Sate klatak, daya tariknya justru pada bumbunya yang minimalis. Dengan ditusuk jeruji lidi motor, sate klatak menjadi sate yang berciri khas. Konon, asal nama klatak sebab proses pembakarannya yang mengeluarkan suara khas jeruji tersebut. Setengah jam-an dari sentra kota Jogja menimbulkan tujuan ngelatak kolam ultimate journey bagi pencinta kuliner.

sate klatak, masakan Jogja, Bantul
Sate Klatak dengan jeruji khasnya. Maaf, satenya sold out! :)

Bu Cip, nama legendaris di jagat persotoan Jogja, di samping Kadipiro dan Pak Marto. Lokasinya di jalan S. Parman, Patangpuluhan. Soto Bu Cip memiliki nama alias 'Soto habis', sebab telat dikit datang, yang kita temui hanya goresan pena tersebut. Di antara legenda soto lainnya, pengecap saya—dan seniman Butet Kartaredjasa—cocok dengan soto ini. Kuahnya yang bening, sayatan tipis dagingnya ditambah tetesan jeruk nipis menimbulkan citarasa soto ini aduhai makjlebnya. Rasa yang tak berubah ketika pertama mengenalnya, dua dekade yang lalu.

Untuk Mie Ayam, Jogja merupakan surganya. Setiap sudut kota selalu tersembul masakan ini. Tapi saya, entah kenapa, selalu kepincut dengan saosnya yang, konon, berasal dari tomat, cabe dan pepaya busuk. Khas banget!

Saat terakhir ke Jogja dua ahad yang lalu. Saya kaget dengan tumbuhnya jajanan masakan gres yang bercabang biak. Di tengah puluhan masakan legendaris Jogja, menyembullah satu-dua masakan Jogja yang bakal menyusul sang pionir. Salah satunya Waroeng Spesial Sambal. Hampir belasan cabangnya aku temui ketika berkeliling Jogja, seputar ringroad-UGM. Selama seminggu di Jogja, tiga kali aku mampir ke warung ini. Saat googling, tahulah aku bahwa restoran yang lahir semenjak 2002 memang telah membuka peluang investasi seluas-luasnya namun bukan berbentuk franchise.

waroeng spesial sambal, kuliner
Spesial Sambal, porsinya pass disantap di puncak rasa lapar. :)
Warung Spesial Sambas, memang menimbulkan Sambal sebagai jualan utamanya. Saya sangat menikmati sambalnya yang beraneka rasa. Meski ada beberapa sambal yang tidak terlalu nendang pedasnya.

Tapi puncak kenikmatannya yaitu ketika ke kasir. Dengan makanan yang berlimpah di atas meja, kita tidak perlu merogoh kocek yang terlalu dalam untuk membayar semua kenikmatan itu. Banderol rata-rata makanan di sini super murah dan khusus nasinya, kita bisa nambah sepuassnya. Sungguh bisnis yang bersenang-senang di atas kesenangan orang lain. Wajar kalau Yoyok Heri, sang owner, bisa meraup lebih dari 1 milyar sebulan dari belasan cabang warung ini. Makbulnya doa para pencinta pedass.

steak and shake, masakan steak Jogja
Mampir ke Waroeng Steak and Shake di malam hari. Tetap ramai...
Waroeng Steak and Shake, nah ini masakan favorit istriku. Steak ala Jogja. Steak yang olahannya menyesuaikan dengan pengecap orang timur. Tentu sapi dan ayam menjadi tulang punggung jualannya. Warungnya menyebar di penjuru Jogja; bahkan kini bercabang puluhan di luar Jogja.

Bagi saya, yang tak kalah menarik yaitu Waroeng Steak & Shake mengejawantahkan spiritual company. Spiritual Company yang dibangun owner H. Djody di antaranya yaitu berhenti merokok, membaca Al-Quran satu hari satu juz, ketidakhadiran berbasis shalat dhuha, menunaikan shalat wajib di awal waktu, dan pengajian bagi para karyawan “Waroeng Steak & Shake”. Inspiring!

Bicara wacana masakan Jogja itu laksana bicara wacana langit yang tak berujung. Selalu ada masakan gres yang tumbuh dalam hitungan bulan. Terakhir, aku mencicipi sensasi nikmatnya Ayam Geprek Susu 'Preksu'. Kuliner yang mengilhami adik aku membuka warung ayam geprek di Pontianak.

Dan, goresan pena ini pun akan selalu diupdate. Makin sering aku ke Jogja, semakin sering goresan pena masakan khas Jogja ini diperbaharui.

0 Komentar untuk "Usaha Kita Kuliner Jogja yang Bakal Melegenda"

Back To Top