Jika kau terlalu sibuk melihat masa lalumu, atau bahkan cemas terhadap masa depanmu, kau tidak akan melihatNya. Dan jikalau kau melupakanNya, hidup ini tak layak kau jalani...― Rumi
Di tengah riuhnya kicauan dan rentetan status di sosial media, kadang ketidaktahuan itu lebih membahagiakan. Bagaimana tidak, dengan berondongan gosip pembunuhan setiap hari; kabar selingkuh para artis sehari tiga kali; gemuruh genderang korupsi yang tiada hilirnya; kita luput membangun diri. Luput introspeksi dan evaluasi diri. Tak jarang kita hidup dan merasa harus selalu hadir di dalam jadwal (sosial) media. Kita harus menjadi bab di dalamnya. Setiap (bad) news yang muncul harus kita tanggapi. Meski sebagai seksi komentator. Di sini ketidaktahuan (atau keacuhan) begitu bernilai. Sekali lagi, saya berani mengatakan, ketidaktahuan itu membahagiakan. Sungguh.
Nah, di tengah kondisi pancaroba menyerupai inilah, saya selalu menikmati dikala membaca kisah inspirasi, semacam Chicken Soup atau goresan pena motivasi dari penulis lokal. Meski saya tahu, sang penulis juga insan yang tak mungkin sesempurna tulisannya. Dan itu sudah saya alami berkali-kali, tak terkecuali saya sendiri.
Dulu (sekarang juga masih?) ada Cak Nun, Arvan Pradiansyah, Miranda Risang Ayu (dulu rutin di Republika), Gede Prama dan banyak lagi lainnya. Yang jadul, ada Jalaluddin Rumi, Al Ghazali, Ibn ‘Atha’illah, de es be. Ada sebuah folder khusus di laptop untuk aneka macam goresan pena inspiratif dari manapun, yang saya pungut sembari browsing. Tulisan yang biasanya membawa saya meng-aku.
Ini secuil kisah inspiratif yang kocak namun dalam. Hadir dan digubah dalam aneka macam versi. Tapi kata kuncinya sama: power of kecebur.
Seorang konglomerat mengadakan pesta kebun untuk mencari pasangan yang cocok bagi putrinya. Seluruh tokoh masyarakat dan kolega diundang menghadiri program tersebut. Mereka masing-masing membawa belum dewasa yang beranjak dewasa.
Sebelum jamuan makan malam dimulai, sang konglomerat selaku tuan rumah memberikan kata sambutan wacana maksud program yang diadakannnya. Setelah mengakhiri pidato singkatnya, ia mengajak tamu-tamunya ke bak renang di belakang rumahnya. Dia menantang para tamunya untuk menyeberangi bak tersebut. Bukan sembarang bak renang tentunya. Kolam tersebut berisi puluhan buaya dan ular yang kelaparan. Konglomerat tadi menjanjikan dua opsi apabila ada perjaka yang dapat menyeberangi bak itu. Pertama, sepertiga hartanya akan diserahkan ke perjaka tersebut. Kedua, ia akan menjodohkan putrinya lengkap dengan hak waris.
Belum sempat menutup pembicaraannya, tiba-tiba ada kelebatan seorang perjaka melompat ke dalam kolam. Dengan gerakan yang terlatih perjaka tersebut berenang ke pinggir bak sambil menghindari buaya dan ular yang siap menghabisinya. Akhirnya, ia hingga ke pinggir bak dengan selamat.
Dengan wajah kepayahan, perjaka tersebut berdiri dengan badan penuh luka. Melihat perjaka itu, alangkah girangnya hati konglomerat tadi. Dia melihat sosok calon menantu impian. Seorang perjaka ganteng, bertubuh atletis dan... berani. Dia pribadi menanyakan ke perjaka tersebut pilihan apa yang diambilnya. Pemuda tadi menggeleng.
Konglomerat tadi menegaskan pertanyaannya kembali, ”Hai pemuda, Anda dengan gagah berani mengarungi bak itu, kini sebutkan hadiah yang kau inginkan?”
Pemuda tersebut menggeleng dan berkata dengan masygul, ”Saya hanya mau bertanya, siapa yang mendorong saya?”
Dalam hidup ini, haruskah kita didorong untuk menggapai sesuatu yang, sebenarnya, bisa kita lakukan?
Anda yang pernah dikejar, maaf, anjing di waktu kecil mungkin pernah mencicipi keanehan. Ketika dikejar anjing tadi, anda bisa melompati tembok yang tingginya melebihi kemampuan lompatan Anda.
Ya, energi yang yang maha dahsyat itu tak jarang kita sembunyikan di balik sifat rendah diri, minder atau putus asa. Haruskah ada “anjing” yang mengejar atau seseorang yang mendorong sehingga kita dapat mengeluarkan energi itu?
Tapi, seringnya memang kita didorong dulu, dipaksa dahulu gres kita tahu bahwa kita bisa melaksanakan apapun, lebih dari yang kita bayangkan.
Dan hal ini berlaku universal, di setiap bidang kehidupan, tidak hanya di dunia bisnis. Tentu.

0 Komentar untuk "Usaha Kita Power of Kecebur; Bagi Bisnis dan Kehidupan"