Akronim JK dan DI tentu sudah lekat di benak kita. JK untuk Jusuf Kalla, DI untuk Dahlan Iskan. Saya kembali ‘dipaksa’ menuliskan keduanya sebab memang sosok mereka layak tulis. Di tengah birokrasi yang penuh retorika dan bertele-tele, mereka menjadi oase. Mata air cita-cita kini bergerak kepada mereka, Dahlan Iskan khususnya.
Kemarin, tak sengaja saya menyaksikan Jusuf Kalla di sebuah TV. Sebagai senior yang mantan Wapres, Jusuf Kalla diminta bicara ihwal Dahlan Iskan dengan gebrakannya. Panjang lebar JK bicara. Saya manggut-manggut, setuju dengan pandangan JK. Sebelumnya saya memang sudah melihat kesamaan abjad keduanya.
Ketika bicara ihwal Dahlan Iskan, bekerjsama Jusuf Kalla berbicara ihwal dirinya sendiri. Bagaimana ia berkali-kali mengambil keputusan yang seolah-seolah tergesa namun belakangan hari terbukti efektif. Membongkar gudang beras ketika tsunami di Aceh, bangkit di depan ketika perdamaian Aceh dan Ambon, pasang tubuh ketika kenaikan BBM—sebagian agresi konkretnya yang kadang bertentangan dengan ‘jiwa’ birokrasi. “Yang terpenting yaitu hasil,” belanya, “tentu tanpa mengabaikan aturan.”
Seorang pria mengamuk dan membuang bangku di loket tol, demikian gosip yang menghiasi di banyak sekali media beberapa hari yang lalu. Tentu bisa menjadi gosip biasa dan hanya berjatah 1 kolom di koran kalau bukan Dahlan Iskan pelakunya. Mengendarai kendaraan beroda empat sendiri, jalan kaki ke kantor kementerian ESDM, menolak ruang kantor dan kendaraan beroda empat dinas, terasa tak cukup baginya. Lagi-lagi, Dahlan Iskan mengeluarkan agresi nyelenehnya. Ketika langkah-langkah persuasif dan akomodatif tidak bisa menggerakkan. Dahlan mengambil tindakan tegas. Mengejutkan sekaligus menggerakkan: membuang bangku loket dan menggratiskan jalan tol! Meski diperlukan waktu untuk menilai efektifitas gebrakannya di kementerian BUMN; tapi setidaknya dengan teladan yang sama, Jawa Pos telah dibawanya menjadi raja media di Indonesia.
Man of action, pantas disematkan kepada keduanya. Mereka bukanlah tokoh di balik meja. Doyan mendengarkan laporan bawahan tanpa verifikasi. Cepat bertindak, khas entrepeneur. Karena lambat-cepatnya bertindak sama-sama memiliko risiko: gagal dan sukses lebih dini! Tapi bagi wirausahawan, bertindak lebih cepat terasa lebih membius, menantang dan memberi kedamaian.
Bila dengan tagline ‘lebih cepat, lebih baik’-nya JK mampu—dalam kacamata saya—menunaikan tugasnya dengan cepat dan baik, akankah Dahlan Iskan bisa melaksanakan hal yang serupa? Bila iya, akankah ia ikutan ‘terpeleset’ dengan ikutan nyalon di Pilpres 2014. Hmm, untuk hal terakhir, Dahlan Iskan mungkin sama dengan sopir bajaj: hanya ia dan Yang Mahakuasa saja yang tahu jawabnya.
Tag :
Dahlan Iskan,
Inspirasi

0 Komentar untuk "Usaha Kita Jusuf Kalla; Bicara wacana Dahlan Iskan Seolah Bicara wacana Dirinya"